menurut cerita pada awalnya kopi luwak hanya di minum oleh para pekerja bebun kopi, mereka sangat menginginkan minum kopi tapi tidak di perbolehkan mengambil buah kopi, yang pada saat itu masih di bawah pengawasan pemerintah belanda, para pekerja kebun kopi hanya di perbolehkan mengambil kopi bekas kotoran musang, kopi tersebut di cuci dan di sangrai oleh pekerja kebun kopi tersebut, dan di jadikan untuk seduhan, dan ternyata aroma kopi luwak tersebut lebih tajam daripada aroma kopi biasa, dan rasanya pun jauh lebih nikmat, kopi luwak memeng sudah menonjol ketika di sangrai, baik warna dan aromanya sangat berbeda dengan kopi biasa, sehingga ketika kopi luwak hampir matang aromamnya sudah menebar kemana-mana,
kalau di sini kopi luwak biasanya di kumpulkan petani.,terutama kaum wanita, mereka mengumpulkan sisa-sisa buah kopi yang jatuh, dan buah kopi bekas di makan kelelawar, namun mereka tidak memisahkan antara kopi luwak dengan kopi kelelawar, atau dengan buah kopi yang rontok karna kelewat matang, semua kopi yang mereka dapatkan di kumpulkan menjadi satu macam saja, kebiasaan mengumpulkan kopi seperti ini masih berlangsung hingga saat ini, mereka senang mengumpulkan kopi tersebut, karna mudah kering, dan mudah di tumbuk, sebagian ada yang sengaja untuk di jadikan minuman, dan ada pula yang menjual nya dengan harga sama seperti harga biji kopi biasa,
semenjak kopi luwak terkenal mahal, peteni mulai mengasingkan antara kopi yang bukan kotoran luwak dengan kopi luwak, bahkan sebgian ada yang memang sengaja mengumpulkan kopi luwak,
apalagi kopi luwak terkenal sangat enak, maka banyak yang ingin tau rasa kopi luwak tersebut, tetapi orang sekarang tidak banyak yang pandai menyangrai kopi, sehingga walaupun biji kopi yang mereka sangrai adalah kopi luwak, namun rasanya tidak jauh berbeda dengan kopi biasa, di karnakan penyangrain terlalu hitam, den bagian delam nya tidak matang,
kalau dulu setiap ibu-ibu sangat pandai menyangrai kopi, karna belum banyak jualan kopi yang siap seduh, setiap yang minum kopi mereka bikin kopi sendiri, maka semuanya sangat pandai menyangrai kopi, apalagi kalau dulu untuk membuat kopi bubuk harus di tumbuk pakai lumpangm tentu saja kopi harus matang sampai ke bagian yang palaing dalam, karna jika tidak matang, maka kopi akan suli di tumbuk, berbeda dangan mesin, kalau mesing penggiling kopi, jangankan kopi yang belum matang, batu saja bisa hancur, maka orang sekarang banyak yang menyangrai kopi kuran matang,
kalau di sini kopi luwak biasanya di kumpulkan petani.,terutama kaum wanita, mereka mengumpulkan sisa-sisa buah kopi yang jatuh, dan buah kopi bekas di makan kelelawar, namun mereka tidak memisahkan antara kopi luwak dengan kopi kelelawar, atau dengan buah kopi yang rontok karna kelewat matang, semua kopi yang mereka dapatkan di kumpulkan menjadi satu macam saja, kebiasaan mengumpulkan kopi seperti ini masih berlangsung hingga saat ini, mereka senang mengumpulkan kopi tersebut, karna mudah kering, dan mudah di tumbuk, sebagian ada yang sengaja untuk di jadikan minuman, dan ada pula yang menjual nya dengan harga sama seperti harga biji kopi biasa,
semenjak kopi luwak terkenal mahal, peteni mulai mengasingkan antara kopi yang bukan kotoran luwak dengan kopi luwak, bahkan sebgian ada yang memang sengaja mengumpulkan kopi luwak,
apalagi kopi luwak terkenal sangat enak, maka banyak yang ingin tau rasa kopi luwak tersebut, tetapi orang sekarang tidak banyak yang pandai menyangrai kopi, sehingga walaupun biji kopi yang mereka sangrai adalah kopi luwak, namun rasanya tidak jauh berbeda dengan kopi biasa, di karnakan penyangrain terlalu hitam, den bagian delam nya tidak matang,
kalau dulu setiap ibu-ibu sangat pandai menyangrai kopi, karna belum banyak jualan kopi yang siap seduh, setiap yang minum kopi mereka bikin kopi sendiri, maka semuanya sangat pandai menyangrai kopi, apalagi kalau dulu untuk membuat kopi bubuk harus di tumbuk pakai lumpangm tentu saja kopi harus matang sampai ke bagian yang palaing dalam, karna jika tidak matang, maka kopi akan suli di tumbuk, berbeda dangan mesin, kalau mesing penggiling kopi, jangankan kopi yang belum matang, batu saja bisa hancur, maka orang sekarang banyak yang menyangrai kopi kuran matang,


0 komentar:
Posting Komentar